Sunday, May 21, 2017
MENGHERANKAN BUKAN?
Meurnut penielitan Unisvetrias Cabmrigde, tak jdai saol baaigmnaa urtuan hruuf dlaam sutau ktaa, ynag pialng petning adlaah huurf petrama dan traekhir hraus telrteak pdaa tmpeat ynag baner, apadun huurf laninya dpaat tdiak brateuran dan kmau daapt memcabanya tapna megnalami kelisutan. Ini dibabsekan kaerna pkiiran maunsia tiadk mebamca degnan mehliat ktaa hruuf per huurf, tpai mebmaca ktaa seabgai sautu kestuaan.
APAKAH KAU MENYADARINYA?! (Do You Realize That?)
Kita dilahirkan dengan dua mata di bagian muka. Maka itulah mengapa kita tidak boleh selalu menatap kebelakang, akan tetapi memandang apa-apa yang ada di hadapan kita, bahkan memandang jauh ke muka.
Kita dilahirkan dengan dua daun telinga, kiri serta kanan. Seharusnya kita mendengar persoalan dari kedua belah pihak, seharusnya kita bersedia menerima pujian dan juga celaan. Lalu menetapkan mana yang benar dari keduanya.
Kita dilahirkan dengan otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Meski tampak sangat miskin, tetapi sesungguhnya kita kaya karena tiada seorangpun dapat mencuri isi otak kita.
Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, tapi satu mulut. Mulut bisa menjadi senjata yang tajam. Ia dapat melukai, mencumbu dan membunuh pula. Karenanya, sedikitkan bicara, banyakkan mendengar serta melihat.
Kita lahir dengan hanya satu jantung hati, terletak jauh di bawah tulang rusuk yang mana mengingatkan kita agar selalu menghargai dan memberikan cinta dari lubuk hati yang paling dalam. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai, tapi janganlah kau berharap orang-orang akan mencintaimu seperti/sebanyak cintamu kepada mereka. Berikan cintamu tanpa mengharap balasan niscaya kau dapati cinta menjadi lebih indah.
Wednesday, May 17, 2017
PASIR DAN BATU (Sand And Stone)
![]() |
| Pasir Dan Batu |
Dikisahkan bahwa ada dua orang sahabat melakukan perjalanan menyeberangi padang pasir. Pada suatu tempat, mereka terlibat dalam perdebatan sengit, sahabat yang satu menampar muka sahabat yang lain. Sahabat yang ditampar merasa terluka hatinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menulis di pasir: HARI INI SAHABAT BAIKKU MENAMPARKU.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Dan dalam perjalanan mereka menemukan danau lalu mandi di situ. Orang yang ditampar tadi terjebak dalam lumpur hisap dan mulai tenggelam. Sahabatnya datang menolong. Setelah berhasil diselamatkan ia menulis di atas batu: HARI INI SAHABAT BAIKKU TELAH MENYELAMATKANKU.
Temannya bertanya, “Tadi kau menulis di pasir, sekarang kau menulis di atas batu, mengapa?”
“Jika seseorang melukai hati kita, sebaiknya kita menulis kejadian itu di atas pasir agar angin pengampunan dapat menghapusnya. Namun bila seseorang berbuat baik kepada kita, hendaknya kita mengukir peristiwa itu di batu sehingga angin takkan pernah dapat menghapusnya.
TERSENYUM PADA NASIB (World Of Smiles)Ter
![]() |
| Tersenyum Pada Nasib |
Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku bekerja di museum Natural History milik Universitasku. Suatu hari ketika sedang bekerja sebagai kasir toko barang-barang cenderamata, aku melihat sepasang suami istri yang telah lanjut usia bersama seorang gadis kecil di kursi roda. Kuamati gadis itu, ia seakan duduk dengan posisi aneh, baru kemudian kusadari bahwa gadis itu ternyata tidak memiliki kaki dan tangan, hanya kepala, leher, dan tubuh. Ia mengenakan pakaian putih kecil bertitik-titik merah. Kedua orang tua itu mendorongnya ke arahku.
Aku melihat mesin hitung, lalu menoleh ke arah gadis kecil dan mengkedipkan mata kepadanya. Ketika mengambil uang dari kakeknya, aku sering kali melirik gadis kecil itu. Tak disangka ia tersenyum sangat manis kepadaku. Senyuman paling lebar yang pernah kulihat. Tiba-tiba saja cacatnya hilang dan yang kulihat hanyalah seorang gadis cantik yang senyumannya melumerkan diriku. Sebuah senyuman yang saat itu juga memberiku pengertian baru tentang kehidupan ini. Ia menarikku, mahasiswi miskin yang sengsara ini ke dalam dunianya, dunia yang penuh senyum, cinta, dan kehangatan.
Itu sepuluh tahun yang lalu dan sekarang aku telah menjadi seorang pengusaha sukses. Namun, kapanpun aku merasa sedih dan memikirkan kesulitan-kesulitan di dunia, aku segera teringat gadis kecil ini, dan pelajaran mengagumkan yang telah diberikannya kepadaku.
Monday, May 15, 2017
BUS BERIKUTNYA (The Next Bus)
![]() |
| Bus Berikutnya |
Ketahuilah, cinta itu ibarat orang menunggu bus. Ketika bus datang, kau mengamatinya lalu berkata dalam hati, "Oooh... Penuh sekali... aku tidak bisa duduk. Sebaiknya kutunggu bus yang lain."
Kau biarkan bus itu pergi lalu menunggu bus yang lain. Bus kedua datang, kau mengamatinya tapi lalu kau berkata, "Ooh... bus ini sangat tua... butuh banyak perbaikan!" Bus itu kau biarkan pergi lalu kau putuskan menunggu bus berikutnya.
Sejenak kemudian bus berikutnya datang. Bus itu tidak penuh penumpang dan tidak tua. Setelah kau amati, kau berkata, "Ooh... Tidak ada AC nya, sebaiknya kutunggu bus yang lain."
Lagi-lagi, kau biarkan bus itu pergi dan kau menunggu bus yang lain. Hari mulai petang, langit mulai gelap, kau menjadi panik, akhirnya kau terpaksa lompat ke bus berikutnya. Setelah bus itu berjalan, kau baru sadar bahwa kau naik bus jurusan lain.
Kau buang waktu dan uangmu untuk merain yang kau idamkan. Sesungguhnya, meskipun kau berhasil mendapatkan bus ber AC, kau tidak bisa memastikan bahwa bus itu tidak akan mogok, atau bisa saja AC nya terlalu dingin untukmu.
TUNGGU... Aku yakin kau juga pernah mengalami peristiwa ini. Kau melihat bus datang (Bus yang kau inginkan, tentu). Kau pun segera melambaikan tanganmu. Tapi... WUSS... Sang sopir ngebut melewatimu. Ia bersikap seakan-akan tidak melihatmu. Kaupun segera sadar, ternyata bus itu tidak diperuntukkan bagimu.
Pada hakekatnya, mencari pasangan adalah seperti mencari bus. Apakah kau akan menumpanginya dan menghargai bus itu?! Itu semuanya tergantung padamu sendiri!
Bila kau belum mampu membuat keputusan, JALANLAH... Jalan memang berarti kau belum memperoleh yang kau idamkan. Namun sisi baiknya adalah, kau masih dapat memilih bus mana yang kau inginkan. Adapun mereka yang tidak dapat pindah kendaraan, mereka harus puas dengan bus yang mereka tumpangi sekarang.
Sedikit lagi. Kadang-kadang lebih baik kau memilih bus yang kau sudah biasa dan kenal dari pada kau pertaruhkan dirimu dengan kendaraan yang sama sekali asing bagimu. Tapi sekali lagi, hidup ini menjadi kurang mengasyikkan bila kita tidak berani mengambil resiko...
TUKANG KAYU (The Carpenter)
![]() |
| Tukang Kayu |
Suatu hari dua saudara yang tinggal di ladang yang bersebelahan berselisih. Ini adalah perpecahan yang paling parah selama mereka bertani berdampingan sejak 40 tahun yang lalu. Sebelumnya mereka selalu berbagi peralatan mesin, tukar menukar buruh tani dan saling berjual beli barang tanpa masalah apapun.
Kerja sama yang terbina sejak lama tiba-tiba hancur saja berantakan, awalnya hanya sedikit kesalahpahaman lalu berkembang menjadi perselisihan, dan akhirnya meledak menjadi saling caci dan tidak saling sapa.
Suatu pagi, terdengar ketukan di pintu rumah John. Ketika pintu rumah di buka, berdiri di hadapannya seorang tukang kayu dengan peralatannya.
“Aku butuh pekerjaan untuk beberapa hari,” kata orang itu.
“Mungkin kau punya beberapa pekerjaan kecil yang dapat ku bantu?”.
“Ya,” kata John. “Aku punya pekerjaan untukmu. Lihatlah ke ladang di seberang sungai kecil itu ladang itu milik tetanggaku, sebenarnya ia adalah adikku. Dulu, diantara ladang kita ada padang rumput, lalu ia buldozer sehingga kita sekarang dipisahkan oleh sungai kecil. Mungkin ia berbuat demikian untuk menjengkelkanku. Aku akan memberi balasan setimpal. Kau lihat tumpukan kayu di sebelah kandang itu? Aku minta kau buatkan pagar setinggi 8 kaki sehingga aku tidak lagi harus memandang kediamannya setiap hari.”
Tukan kayu itu berkata, “Sekarang aku mengerti persoalannya. Tunjukkan kepadaku tempat paku dan alat pemancang tiang sehingga aku dapat segera melakukan pekerjaan yang memuaskanmu.”
Hari itu sang kakak harus pergi ke kota untuk membeli berbagai kebutuhan kerja. Setelah membantu si tukang kayu menyiapkan peralatan yang dinutuhkannya. Maka pergilah ia ke kota seharian.
Si tukang kayu bekerja keras hari itu. Ia mengukur, menggergaji dan memaku. Menjelang petang ketika petani itu datang, si tukang kayu telah menyelesaikan pekerjaannya.
Mata si petani melotot, mulunya melongo. Tidak ada pagar di situ yang ada hanya jembatan. Jembatan itu menjulur dari sisi sungaiyang satu kesisi yang lain. Benar-benar pekerjaan yang indah, lengkap dengan pagar di kiri kanannya. Dan tetangganya......, adiknya, datang dari seberang dengan tangan terulur ke depan.
“Kau benar-benar telah berbaik hati membuat jembatan ini setelah apa-apa yang kuucapkan dan lakukan,” kata adiknya.
Kedua saudara itu berjalan dan bertemu di tengah jembatan lalu berpegangan tangan. Mereka berdua menoleh ke arah si tukang kayu yang lagi mengangkat kotak peralatan ke atas pundaknya untuk bersiap-siap pergi.
“TUNGGU........, tunggu dulu.........” diamlah disini beberapa hari. Aku punya pekerjaan untukmu,” kata si kakak.
“Sebenarnya aku ingin tinggal lebih lama, tapi masih ada banyak jembatan yang harus kubangun.”
Tuesday, March 1, 2016
SERIBU KELERENG (A Thousand Marbles)
Beberapa minggu yang lalu, aku berjalan dengan malas-malasan ke dapur dengan secangkir kopoi panas di tangan kananku dan koran pagi di tangan kiriku. Sabtu yang bisa kulewatkan dengan kegiatan yang khas tiba-tiba menjadipelajaran tentang kehidupan yang jarang kuperoleh.
Sura radio kukeraskan agar aku dapat mendengarkan obrolan Sabtu pagi. Aku mendengar suara merdu dari seoarang lelaki tua. Tahu nggak, suaranya seperti suara seseorang yang ia sendiri pantas menjadi penyiar.
Ia berbicara tentang seribu kelereng kepada lelaki bernama Tom. Aku tergoda untuk duduk mendengarkan apa yang sedang ia bicarakan.
"Well, Tom, kedengarannya kau sangat sibuk sekali dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka memberimu gaji besar. Tapi sayang kau harus begitu sering jauh dari keluargamu. Sulit mempercayai bahwa pemuda sepertimu harus bekerja 60 sampai 70 jam seminggu untuk mencukupi kebutuhan hidupmu. Sayang sekali kau tidak bisa hadir pada pertunjukkan tari anakmu."
Ia melanjutkan, "Aku akan bercerita kepadamu, Tom, tentang sesuatu yang membantuku memahami prioritas kegiatanku."
Ia lalu mulai menjelaskan teori "seribu kelereng"-nya
"Suatu hari aku duduk dan melakukan sedikit hitung-menghitung. Rata-rata mumur 75 tahun. Aku tahu berapa orang hidup lebih lama dari itu, dan berapa orang lagi hidup kurang dari itu. Tapi secara rta-rata, manusia hidup sekitar 75 tahun. Nah, lalu aku kalikan 52 hasilnya adalah 3900, yaitu jumlah Sabtu yang bakal dilewati oleh rata-rata manusia selama hidupnya. Dengarkan Tom, aku hampir sampai pada bagian yang paling penting. Pikiran ini baru muncul dibenakku setelah umurku mencapai 55 tahun. Jadi pikiran ini muncul setelah aku hidup selama 2.860. Aku berpikir, kalau aku hidup sampai umur 75 tahun, berarti aku masih memiliki 1040 Sabtu untuk kunikmati. Aku lalu pergi ke toko mainan anak-anak untuk membeli 1040 kelereng. Untuk mendapatkan jumlah itu aku harus belanja ke tiga toko. Kelereng-kelereng itu kubawa pulang, kumasukkan dalam tas plastik besar yang transparan lalu kutaruh di sebelah radio di bengkelku. Setiap sabtu, kuambil satu kelereng dari tas plastik lalu kubuang. Aku menyadari bahwa dengan menyaksikan berkurangnya kelereng-kelereng itu, aku dapat memusatkan pikiran dan kegiatanku pada hal-hal yang penting dalam hidupku. Tak ada yang lebih hebat daripada menyaksikan umurmu di bumi ini sedikit demi sedikit habis. Nah, sekarang kuberi tahu kau, sebelum aku mengakhiri acara obrolan ini dan pergi bersama istriku yang cantik untuk sarapan pagi. Tadi pagi aku telah membuang kelereng terakhir yang ada di plastik transparan itu. Kupikir, apabila aku hidup sampai Sabtu yang akan datang berarti aku dikarunia sedikit waktu tambahan. Waktu tambahan adalah sesuatu yang kita semua selalu dapat memanfaatkannya. Senang sekali berbicara denganmu Tom, kuharap kau dapat melewatkan waktumu lebih banyak bersama orang-orang yang kau cintai, dan kuharap aku dapat bertemu denganmu lagi suatu hari nanti. Selamat menikmati pagi yang indah ini!"
Saat itu, ketika lelaki tua itu selesai berbicara, kau dapat mendengar suara jarum jatuh. Bahkan moderator obrolan pagi membisu beberapa saat. Kupikir lelaki itu telah memberi kita banyak hal untuk direnungkan.
Tadinya pagi itu aku berencana untuk melakukan beberapa pekerjaan lalu pergi ke tempat olah raga. Namun, aku naik ke loteng, membangunkan istriku dengan ciuman.
"Bangun, sayang! Aku akan mengajakmu dan anak-anak makan pagi di luar."
"Ada apa ini?" tanya istriku tersenyum.
"Tidak ada yang istimewa. Kan sudah lama kita tidak melewatkan hari Sabtu bersama anak-anak," jawabku. "Oh ya.... bisakah kita nanti mampir ke toko mainan anak-anak, aku hendak membeli kelereng."
(Author Unknown)
Monday, February 29, 2016
POHON PERMASALAHAN (Trouble Tree)
Tukang kayu yang kugaji untuk memperbaiki rumah pertanian baru saja menyelesaikan hari pertamanya yang melelahkan. Ban mobilnya yang bocor membuatnya kehilangan 1 jam kerja, gergaji listriknya macet, dan sekarang mobil tuanya mogok, tidak bisa dijalankan.
Aku lalu mengantarkannya pulang dengan mobilku. Ia duduk mematung dan membisu. Sesampainya di halaman rumahnya, ia mengajakku masuk untuk bertemu dengan keluarganya. Ia berjalan menuju pintu dekat rumahnya, tapi kemudian ia berhenti sejenak di dekat sebuah pohon kecil, lalu menyentuh ujung cabang-cabang pohon itu dengan kedua tangannya.
Setelah itu ia mengalami perubahan yang menajubkan. Ketika membuka pintu rumah, mukanya yang kecoklatan karena terik matahari sekarang dihiasi senyum. Ia memeluk kedua anaknya yang masih kecil lalu mencium istrinya.
Ketika aku hendak pulang, ia mengantarku ke mobil. Kami melewati lagi pohon kecil itu. Aku merasa sangat penasaran lalu bertanya kepadanya tentang apa yang tadi ia lakukan.
“Oh, ini adalah pohon permasalahanku,” jawabnya. “Dalam bekerja, aku tidak bisa menghindar dari berbagai permaslahan. Namun, aku berkenyakinan, bahwa persoalanku tidak boleh menjadi persoalan istri dan anak-anakku. Karenanya, setiap kali pulang kerja, aku gantungkan semua persoalanku di pohon ini, dan mengambilnya kembali esok hari. “Anehnya,” katanya sambil tersenyum, “Setiap ku ambil lagi, permasalahan itu tampak jauh lebih mudah diatasi dibandingkan ketika kugantungkan di malam hari.”
(Author Unknown)
KELEDAI (The Donkey)
Keledai seorang petani terperosok dalam sumur. Binatang itu menjeri-jerit dengan suara yang memilikukan selama berjam-jam semetara si petani memeras otak untik menolongnya, akhirnya, ia memutuskan untuk menguburnya saja, karena disamping keledai itu sudah tua, sumur itu pun memang sudah layak untuk di tutup.
Ia kemudian mengundang tetangga-tetangganya untuk datang membantu, ,ereka semua membawa sekop dan mulai menyekop tanah, Lumpur dan kotoran lalu membuangnya kedalam sumur.
Si keledai menyadari apa yang akan menimpa dirinya. Ia lalu menjerit-jerit ketakuatan. Namun, orang-orang yang di atas merasa heran karena tiba-tiba saja keledai itu berhanti menjerit-jerit. Berapa sekop berikutya si petani melongok ke bawah dan merasa takjub menyaksikan apa yang dilihatnya; setiap kali lumper dan kotoran jatuh menimpa penggungnya, keledai itu mengibaskan tubuhnya sehinggga kotoran itu jatuh lalau melangkah ke atas kotoran dan Lumpur yang di jatuhkan oleh para petani. Para tetangga petani it uterus membuang tanah, Lumpur dan tanah kepunggung keledai untuk menguburnya, dan si keledai tersu mengibaskan kotoran-kotoran itu lalu melangkah ke atasnya, tak lam kemudian si keledai dpaat melangkah kemulut sumur lalau belari keluar.
******
Kehidupan ini akan menyekop dan melemparkan kotoran kepadamu : semua jenis kotoran. Cara keluar dair sumur kesulitan itu adlaah dengan mengibaskan kotoran itu dan melangkah ke atasnya. Setiap kesulitan yang kamu hadapi adalah batu lompatan. Kita dapat keluar dir sumur yang paling dalam bukan berhaenti berusaha, atau menyerah tetapi dengan cara mengatasi problem dan melangkah ke atasnya.
(Author Unknown)
AKU BERSYUKUR ATAS.... (I Am Thankful For)
Atas suami/istriku yang selalu menguasai selimut setiap malam, sebab itu ia tidak berada di luar bersama orang lain.
Atas anak remajaku yang tidak mau mencuci piring kotor tapi malah melihat TV, sebab itu berarti ia di rumah, tidak di jalanan.
Atas pajak yang kubayar, sebab itu berarti aku punya pekerjaan, tidak menganggur.
Atas barang-barang yang kotor dan berantakan setelah pertemuan, sebab itu berarti aku baru saja dikelilingi oleh teman-teman dan orang yang kucintai.
Atas pakaian yang agak sempit, sebab itu berarti aku punya cukup makanan.
Atas bayangan yang menyaksikanku pergi kerja, sebab itu berarti aku bisa menikmati cahaya matahari.
Atas rumput yang harus dipangkas, jendela yang harus dibersihkan, dan talang yang harus diperbaiki, sebab itu berarti aku punya rumah.
Atas semua protes kepada pemerintah, sebab itu berarti kita punya kebebasan mengutarakan pendapat.
Atas tempat parkir yang jauh, sebab itu aku mampu berjalan kaki, dan memiliki kendaraan.
Atas tagihan pemanas rumah yang tinggi, sebab itu berarti aku menikmati kehangatan rumah.
Atas tumpukan pakaian kotor yang harus dicuci dan disetrika, sebab itu berarti aku bisa bekerja keras.
Atas keterlambatanku bangun tidur karena alarm tidak bekerja, sebab itu berarti aku masih hidup.
(Author Unknown)
Sunday, February 28, 2016
SEGENAP KEKUATANMU (All Of Your Strength)
Seorang lelaki bersama anaknya umur 10 tahun mendaki gunung. Si anak berhenti untuk mengamati batu yang berukuran sedang yang terletak di tengah jalan.
“Ayah, bagaimana pendapatmu, mampukah aku menggeser batu itu?”
Ayahnya melihat batu itu lalu berkata, “Ya, asal kau gunakan segenap kekuatan yang kau miliki, kau pasti mampu menggesernya.”
Si anak lalu memasang kuda-kuda dan mendorong batu itu dengan segeap tenaga, tetapi batu itu bergeming.
“Ahh… ternyata perkiraanmu keliru, Yah, aku tidak bisa menggeser batu itu,” kata anaknya.
“Tidak Nak, aku tidak keliru. Aku tadi berkata, kau dapat menggesernya bila menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki. Namun, kau tidak menggunakan semua kekuatanmu; kau tidak meminta bantuanku.”
(Author Unknown)
ORANG PALING KAYA (Richest Man In The Valley)
Seorang tuan tanah kaya bernama Carl sering mengendarai kuda mengelilingi perkebunannya yang amat luas dan mengagumi dirinya sendiri atas kekayaannya yang luar biasa.
Suatu hari ketika sedang mengendarai kuda kesanyangannya ia bertemu Hans, petani tua penyewa tanahnya yang sedang duduk di bawah pohon.
“Sedang apa kau?” tanya Carl.
“Aku sedang bersyukur kepada Tuhan atas makanan yang diberikan-Nya kepadaku,” jawab Hans.
“Kalau hanya makanan seperti itu, aku tak perlu harus bersyukur kepada Tuhan,” sanggah Carl.
“Tuhan telah memberiku semua yang kubutuhkan, dan aku merasa bersyukur.” Petani itu kemudian menambahkan, “Aneh sekali kau mampir kemari hari ini. Sebab, tadi malam aku bermimpi, ada suara yang memberitahuku bahwa nanti malam, orang paling kaya di lembah ini akan meninggal dunia. Aku tidak tahu maksud mimpi itu, tapi rasanya aku harus memberitahumu.”
Carl mendengus lalu berkata, “Semua mimpi itu bohong.” Kemudian ia mencoklang kudanya.
Ucapan Hans tadi terus menerus terniang di telinganya. “Orang paling kaya di lembah ini akan mati malam ini.” Jelas sekali bahwa orang paling kaya di lembah ini adalah dia. Malam itu ia mengundang dokter pribadinya, dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Hans.
Setelah meneliti benar-benar kesehatannya, dokter berkata kepada tuan tanah yang kaya itu, “Pak Carl, Anda sekuat dan sesehat seekor kuda. Tak ada alasan bagimu untuk mati malam ini.”
Meskipun demikian, untuk meyakinkannya, dokter itu tetap tinggal di rumahnya sepanjang malam sambil bermain kartu. Keesokan harinya Carl minta maaf kepada dokter atas kekhawatirannya pada mimpi petani tua itu. Dokter pun kemudian meninggalkan rumahnya.
Kira-kira jam 09:00, seorang pesuruh datang ke rumah Carl. “Ada berita apa?” tanya Carl.
“Ini tentang pak tua Hans,” kata orang itu. “Ia meninggal dunia dalam tidurnya tadi malam.”
(Author Unknown)
KEBERSAMAAN (How Much Do You Make In An Hour?)
Seorang anak bertanya kepada ayahnya, “ Ayah, berapa penghasilanmu 1 jam?”
Mendengar pertanyaan ini sang ayah marah lalu berkata dengan kasar , “Jangan ganggu aku!”
Sang ayah baru saja pulang dari kerja dalam keadaan capai dan wajah muram .
Namun, anaknya bersikeras dengan pertanyaannya. “Ayah berapa penghasilanmu, tolong jawab... !”
Dengan suara yang tidak mengenakan dia menjawab, “ Delapan dolar satu jam.”
“Ayah boleh tidak, aku pinjam 4 dolar?”
“Aku sudah berkata, jangan ganggu aku! Diam dan pergilah ke kamarmu! “ bentak ayahnya.
Memasuki saat tidur malam, sang ayah sudah merasa agak tenang. Ia menyesali perbuatannya tadi, lalu ia pergi ke kamar anaknya.
“Kau sudah tidur?”, tanya ayahnya.
Ia lalu memberi anaknya 4 dolar yang tadi hendak dipinjamnya. Anaknya mengucapkan terima kasih, lalu menyisipkan tangannya ke bawah bantal dan mengeluarkan dari bawahnya uang 4 dolar yang tampak kusut.
“Sekarang aku punya 8 dolar! Ayah , bolehkah aku membeli satu jam saja dari waktumu?”
(Unknown Author)
WANITA YANG BERUNTUNG [Lucky Lady]
Suasana pagi itu sangat sibuk. Jam menunjukkan pukul 8:30 ketika seorang lelaki tua umur 80-an masuk untuk meminta agar jahitan di ibu jarinya dilepas. Ia berkata bahwa ia sedang terburu-buru karena ada janji pukul 9:00. Aku memahami gelagatnya lalu memintanya untuk duduk. Aku tahu pekerjaan ini akan memakan waktu lebih dari satu jam sebelum orang lain bisa menemuinya.
Aku perhatikan ia melihat jamnya lalu memutuskan untuk dilepas jahitannya. Karena saat itu aku sedang tak sibuk dgn pasien-pasien lain, maka kuteliti luka di ibu jarinya. Ternyata lukanya telah sembuh dengan baik, lalu kukatakan kepada salah seorang dokter apa yg hendak kulakukan. Aku lalu menyiapkan peralatan & barang-barang yang kuperlukan untuk melepas jahitan dan membalut lukanya.
Sambil merawat lukanya aku terlibat dalam pembicaraan dengannya. Aku bertanya apakah pagi ini ia punya janji dengan salah seorang dokter di sini karena ia tampak begitu terburu-buru. Ia menjawab tidak, ia harus pergi ke rumah perawatan (nursing home) untuk sarapan bersama istrinya. Aku lalu bertanya tentang keadaan istrinya. Ia berkata bahwa istrinya menderita Alzheimer dan belum lama dirawat di tempat itu.
Sambil mengobrol, kuselesaikan balutan di ibu jarinya. Aku bertanya apakah istrinya akan merasa khawatir bahwa hari ini ia agak terlambat. Ia menjawab bahwa istrinya sudah lima tahun tidak lagi mengenalinya. Aku merasa terkejut dan bertanya, “Apakah kau pergi ke sana setiap hari meski istrimu sudah tidak mengenalimu?”
Ia tersenyum, menepuk tanganku lalu berkata, “Benar ia tidak mengenaliku, tapi aku kan mengenalinya!”
Aku harus menahan tangis haruku ketika ia pergi. Aku merenung, “Ini adalah jenis cinta yang kuharapkan dalam hidupku.”
Sungguh istrinya adalah wanita yang beruntung. Seharusnya kita semua memiliki cinta semacam ini. Cinta sejati tidak bersifat jasmani, dan tak pula hanya bersifat romantis. Cinta sejati adalah kesediaan untuk menerima apa adanya, dan kerelaan untuk menerima apa yang telah, apa yang akan dan apa yang tidak akan terjadi.
Sahabat yang baik seperti bintang di langit. Kau tidak dapat selalu melihatnya, namun kau tahu bahwa mereka ada di luar sana.
(Unknown Author)
CINTA, SUKSES DAN KAYA (3 Men)
Seorang wanita yang keluar rumah mendapati di halaman depan ada tiga kakek berjenggot putih dan panjang.
“Saya kira, saya tidak kenal kalian, tapi kalian pasti lapar. Silakan masuk untuk makan,” kata wanita itu.
“Apakah suamimu dirumah?” tanya meraka.
“Tidak” jawab wanita itu, “Ia sedang keluar”.
“Kalau demikian kami tidak bisa masuk” kata mereka.
Ketika hari telah sore dan suaminya telah datang, wanita itu bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi di rumahnya.
“Beritahu mereka, aku telah datang dan mereka dipersilakan masuk,” kata suaminya.
Wanita itu lalu keluar untuk mengundang mereka.
“Kami tidak masuk rumah bersama-sama,” jawab mereka.
“Mengapa demikian?” tanya wanita itu.
Salah seorang dari mereka berkata, “nama dia KAYA,” katanya sambil menunjuk salah seorang temannya, lalu ia menunjuk temannya yang lain, “nama dia SUKSES, dan aku sendiri bernama CINTA”
Ia kemudian melanjutkan, “Nah, sekarang bicarakan dengan suamimu, siapa di antara kita yang akan kalian undang ke dalam rumah kalian”.
Wanita itu masuk lagi lalu menceritakan kepada suaminya pembicaraan mereka. Suaminya merasa heran, “wow…, alangkah anehnya. Kalau demikian, marilah kita undang KAYA.
Biarkan dia masuk dan mengisi rumah kita dengan kekayaan”.
Tapi istrinya tidak setuju.
“Sayang… mengapa tidak kita undang SUKSES?” kata istrinya.
Menantu perempuan mereka yang sejak tadi mendengarkan dari sudut rumah mengusulkan, “Apakah tidak lebih baik kita undang CINTA? rumah kita nanti akan dipenuhi oleh cinta”
“Benar! Mari kita ikuti saran menantu kita,”kata sang suami kepada istrinya. “Panggilah cinta untuk menjadi tamu kita”.
CINTA bangun dan berjalan ke arah rumah. Kedua orang tua yang lain bangkit mengikuti CINTA. Merasa heran, wanita itu bertanya kepada KAYA dan SUKSES, “Aku hanya mengundang CINTA, mengapa kalian berdua ikut masuk?”
Mereka berkata “ Kalau kau mangundang KAYA atau SUKSES, maka dua orang dari kami akan tetap tinggal di luar. Tetapi karena kau mengundang CINTA, kemana pun ia pergi, kami berdua selalu mengikutinya.”
(Author Unknown)
BERPIKIR POSITIF (A Lesson In Life)
Michael adalah sejenis makhluk yang sulit untuk dibenci. Ia selalu ceria, selalu memiliki ucapan yang positif. Apabila seseorang menanyakan kabarnya, ia akan menjawab, "Kalau keadaanku lebih baik dari sekarang, maka aku pasti saudara kembarnya."
Ia adalah seorang pemberi motivasi alami. Apabila ada karyawan mengalami kesusahan, Michael selalu ada di sana untuk memberi tahu cara melihat sisi positif dari situasi yang sedang dihadapinya.
Melihat sikapnya ini, aku jadi penasaran. Suatu hari aku mendatanginya dan bertanya, "Aku tidak mengerti, kau tidak mungkin dapat bersikap positif setiap saat! Bagaimana kau bisa selalu bersikap demikian?"
"Setiap bangun pagi, aku berkata kepada diriku sendiri; Kau punya dua pilihan hari ini; kau memilih untuk bersikap ceria atau bermuram hati, lalu aku memilih untuk bersikap ceria. Setiap kali sesuatu yang buruk terjadi, aku dihadapkan pada dua pilihan; menjadi korban atau menjadi orang yang belajar dari kejadian itu, lalu aku memilih untuk belajar dari kejadian itu. Setiap kali orang datang kepadaku mengadu, aku bisa memilih untuk menerima pengaduannya atau aku dapat menunjukkan sisi positif kehidupan, lalu aku memilih sisi positif kehidupan," jawab Michael.
"Oke, tapi itu tidak sedemikian mudah untuk dilakukan," protesku.
"Memang demikian," jawab Michael. "Hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Kau punya pilihan untuk bereaksi terhadap situasi yang kau hadapi. Kau juga bisa memilih bagaimana orang akan mempengaruhi keadaan hatimu. Pendeknya, bagaimana kau akan menjalani hidupmu, itu bergantung pada pilihanmu."
Kurenungkan ucapan Michael ini. Tak lama setelah itu aku keluar dari The Tower Industry dan memulai usahaku sendiri. Kami tidak pernah berhubungan lagi, tapi aku sering mengingatnya ketika harus mengambil keputusan dalam hidup ini. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa Michael mengalami kecelakaan parah. Ia jatuh dari menara komunikasi yang tingginya kurang lebih 60 kaki. Setelah dioperasi selama 18 jam, dan dirawat secara intensif selama berminggu-minggu, Michael akhirnya dibolehkan pulang ke rumah dengan beberapa pen di punggungnya.
Aku menemui Michael kurang kebih 6 bulan setelah kecelakaan itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku.
"Kalau keadaanku lebih baik dari sekarang, maka aku pasti saudara kembarnya," jawabnya. "Mau lihat lukaku?"
Aku menolak untuk melihat lukanya, tapi kutanya dia tentang apa yang terlintas di pikirannya ketika kecelakaan itu terjadi.
"Pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah keadaan calon cucu yang masih dalam kandungan anak perempuanku," kata Michael. "Lalu ketika masih terbujur di tanah, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan, mati atau hidup. Lalu aku memilih untuk terus hidup."
"Tidakkah kau merasa takut? Apakah kau kehilangan kesadaranmu?" aku bertanya.
"Para dokter menanganiku dengan baik," kata Michael melanjutkan. "Mereka terus menerus meyakinkanku bahwa keadaanku akan membaik. Mereka menempatkanku dalam ruangan UGD. Setelah memperhatikan ekspresi di muka para dokter dan perawat, kau menjadi benar-benar takut. Dalam pandangan matanya kubaca kalimat : Dia akan mati. Lalu aku sadar bahwa aku harus berbuat sesuatu."
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Ada seorang perawat yang besar dan tegap meneriakkan pertanyaan kepadaku apakah aku alergi pada sesuatu. Kujawab, 'Ya.' Para dokter dan perawat tertegun menunggu jawabku. Aku menarik nafas panjang lalu kukatakan, 'Gravitasi.' Sementara mereka semua tertawa, aku berkata kepada mereka, 'Aku memilih untuk hidup. Lakukan operasimu dengan keyakinan bahwa aku akan hidup.'."
Michael hidup berkat keahlian para dokter yang menanganinya dan juga berkat sikapnya yang mengagumkan. Aku belajar darinya bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk hidup. Sikap hidup adalah segalanya. Karena itu jangan risaukan hari esok, karena esok akan merisaukan dirinya sendiri. Ketahuilah, hari ini adalah hari esok yang kau risaukan kemarin.
(Author Unknown)
NILAI SEBUAH WAKTU
Untuk memahami nilai SATU TAHUN, tanyalah kepada murid yang tidak naik kelas.
Untuk memahami nilai SATU BULAN, tanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.
ntuk memahami nilai SATU MINGGU, tanyalah kepada editor sebuah koran mingguan.
Untuk memahami nilai SATU JAM, tanyalah seseorang yang hendak ditemui kekasihnya.
Untuk memahami nilai SATU MENIT, tanyalah kepada orang yang ketinggalan kereta api.
Untuk memahami nilai SATU DETIK, tanyalah kepada orang yang lolos dari kecelakaan.
Untuk memahami nilai SATU MILIDETIK, tanyalah kepada orang yang memenangkan medali perak dalam olimpiade.
Hargailah setiap detik yang kau miliki !!! Ingatlah, waktu tidak menunggu siapa pun. Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, hari ini adalah karunia.
(Author Unknown)
AKU ADALAH PUSAT JAGAD RAYAKU (I am the center of my universe)
Aku tidak hidup di sini sendiri Setiap gerakan yang kubuat
menimbulkan riak di samudra orang lain
Setiap nafas yang kutarik mempengaruhi udara di sekelilingku. Setiap kata yang kuucapkan didengar orang.
Apa yang kusentuh akan dirasakan orang lain
Apa yang kulakukan akan mempengaruhi orang lain.
Apa yang tidak kulakukan
juga akan berpengaruh pada orang lain
Kita tidak pernah tahu
sejauh mana jangkauan kata yang kita ucapkan
atau perbuatan yang kita lakukan sampai
pengaruhnya kembali kepada kita
Dan memang selalu demikian SEMUA HAL DALAM KEHIDUPAN MEMBENTUK LINGKARAN baik kita melihatnya atau tidak
(Author Unknown)
Saturday, February 27, 2016
RACUN (Poison)
Dahulu kala di negeri Cina, seorang gadis bernama Li-Li menikah lalu hidup bersama suami dan ibu mertuanya. Belum lama tinggal di rumah itu, Li-Li telah merasa bahwa ia sama sekali tidak bisa akur dengan ibu mertuanya. Mertuanya mempunyai watak sangat berbeda, banyak kebiasaannya yang menjengkelkan Li-Li, belum lagi ia selalu mencela Li-Li.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan Li-Li dan mertuanya selalu terlibat dalam perdebatan dan permusuhan. Dan yang membuat keadaan semakin buruk adalah, menurut tradisi Cina, Li-Li harus membungkukan badan kepada ibu mertuanya dan mena’ati kehendaknya. Semua amarah dan ketidakbahagiaan di rumah tangga membuat suami Li-Li menjadi tertekan.
Akhirnya Li-Li tidak sanggup lagi menghadapi watak buruk dan sifat diktator ibu mertuanya. Ia memutuskan untuk berbuat sesuatu. Kemudian pergilah ia menemui tuan Huang, sahabat baik ayahnya, yang pekerjaannya menjual berbagai ramuan tradisional. Ia menceritakan masalah yang dihadapinya dan memohon kiranya boleh meminta racun sehingga ia bisa menyelesaikan semua problem yang dihadapinya.
Tuan Huang berpikir sejenak lalu berkata, “Li-Li, aku akan membantumu, tapi kau harus menaati peintahku!”
“Baik, Tuan Huang, aku akan melakukan apa saja perintahmu,” jawab Li-Li
Tuan Huang pergi ke ruang belakang beberapa menit, kemudian muncuk dengan sebuah bungkusan di tangannya.
“Kau tidak boleh meggunakan racun yang keras untuk menyingkirkan ibu mertuamu, karena orang-orang nanti akan curiga. Ku beri kau beberapa ramuan yang perlahan-lahan akan menimbun racun di tubuhnya. Setiap hari siapkan masakan yang lezat, lalu masukkan sedikit ramuan ini ke dalam mangkuknya. Nah, agar tidak membuat orang lain curiga sepeninggalnya nanti, mulai sekarang mulailah bersikap manis kepadanya. Jangan berdebat lagi dengannya, taatilah segala perintahnya, dan perlakukan dia sebagai orang tuamu” Kata Tuan Huang.
Li-Li merasa sangat senang berterima kasih kepada Tuan Huang. Ia segera kembali ke rumah untuk mulai melaksanakan rencananya. Minggu berganti bulan, waktu terus berjalan dan tiap hari Li-Li menghidangkan makan khusus untuk ibu mertuanya. Ia ingat betul nasehat Tuan Huang agar tidak bertindak mencurigakan. Ia lalu mengendalikan amarahnya, mentaati mertuanya dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri.
Setelah 6 bulan, keadaan rumah tangga mereka berubah. Li-Li selalu mengendalikan diri sehingga hampir tidak pernah marah atau jengkel lagi. Ia tidak pernah lagi berdebat, karena ibu mertuanya sekarang tampak lebih ramah dan mudah dilayani.
Sikap sang mertua terhadap Li-Li pun berubah, ia mulai menyayangi Li-Li seperti anak kandungnya sendiri. Ia selalu bekata kepada kerabat dan temannya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik. Li-Li dan mertuanya; satu dengan lainnya, sekarang bersifat seperti anak dan ibu kandungnya sendiri. Suami Li-Li tentu saja merasa bahagia menyaksikan perubahan ini.
Suatu hari Li-Li menemui Tuan Huang untuk memohon pertolongannya lagi. “Tuan Huang yang saya hormati, tolong bantu aku untuk menyelamatkan mertuaku dari racun itu! Ia berubah menjadi wanita yang sangat baik. Aku sekarang mencintainya seperti ibuku sendiri. Aku tidak ingin dia mati karena racun yang ku berikan kepadanya.”
Tuan Huan tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Li-Li, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku tak pernah memberi racun. Ramuan yang ku berikan kepadamu adalah vitamin dan obat kuat untuk memperbaiki kesehatan mertuamu. Racun yang sebenarnya tersimpan dalam pikiran dan sikapmu terhadapnya. Namun, semua racun itu sekarang telah terkikis habis oleh kasih sayang yang kau berikan kepadanya.”
******
Pernahkah kau sadari bahwa bagaimana kau memperlakukan orang lain adalah bagaimana orang lain itu juga akan memperlakukanmu. Ada pepatah cina berbunyi: orang yang mencintai orang lain akan mendapatkan balasan cinta dari orang itu.
(Author Unknown)
PAKU DI PAGAR (Nail In The Fence)
Dahulu ada seorang gadis kecil berwatak buruk. Ibu gadis itu memberinya sekantung paku dan memerintahkannya untuk menancapkan paku itu pada bagian-bagian pagar setiap kali ia marah.
Pada hari pertama, gadis itu menancapkan 37 paku ke pagar. Beberapa minggu berikutnya, karena ia mulai bisa mengendalikan dirinya, jumlah paku yang ia tancapkan ke pagar semakin berkurang. Ia juga menyadari bahwa lebih mudah menahan amarah dari pada menancapkan paku ke pagar.
Akhirnya, tibalah saat gadis itu bisa menguasai dirinya dan tidak pernah marah lagi. Ia lalu menceritakan hal ini kepada ibunya. Ibunya menyarankan agar ia sekarang mencabut paku dari pagar setiap kali ia bisa menguasai amarahnya.
Setelah lewat beberapa hari, gadis itu melapor kepada ibunya bahwa paku-paku yang tertancap dipagar telah tercabut semua.
Sang ibu kemudian menggandeng tangan anaknya ke pagar lalu berkata, “ Kau sekarang telah berprilaku baik, Nak, tapi lihat lubang-lubang dipagar itu. Pagar itu tidak akan pernah sama seperti dahulu. Sewaktu kau marah-marah, kata-kata yang kau ucapkan menyebabkan persis seperti lubang-lubang dipagar ini.”
Kau dapat menusukkan pisau ke tubuh seseorang lalu mencabutnya. Tak jadi masalah beberapa banyak kau berkata: maafkan aku, tapi luka itu akan tetap ada di situ. Luka yang diakibatkan lisanmu sepedih luka tusukan itu.
Sesungguhnya, teman adalah mutiara yang sangat berharga. mereka membuatmu tersenyum, mendorongmu agar sukses, mendengarkan keluh kesahmu, mengucapkan pujian untukmu dan selalu berlapang dada terhadapmu.
******
Kau adalah sahabatku, dan aku merasa terhormat memiliki teman sepertimu. Tolong maafkan aku, bila aku pernah meninggalkan lubang di pagar hatimu.
(Author Unknown)
Subscribe to:
Posts (Atom)
MENGHERANKAN BUKAN?
Meurnut penielitan Unisvetrias Cabmrigde, tak jdai saol baaigmnaa urtuan hruuf dlaam sutau ktaa, ynag pialng petning adlaah huurf petrama ...
-
Seorang menejer memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis sms berikut: Kamu adalah orang pxnting...
-
Suasana pagi itu sangat sibuk. Jam menunjukkan pukul 8:30 ketika seorang lelaki tua umur 80-an masuk untuk meminta agar jahitan d...
-
Seorang guru agama hindu yang telah lanjut usia merasa lelah terus-menerus mendengar keluhan salah seorang muridnya. Suatu pagi hari, ia ...

















